setdprd.sleman.go.id – Forum Konsultasi Publik RKPD Kabupaten Sleman 2023 dilaksanakan di Aula Pangripta Bappeda Sleman (18/1) yang dihadiri oleh Arif Kurniawan, S.Ag, M.H (Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Sleman), Ir. Dwi Anta Sudibya, MT (Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah), Prof. Dr. M. Irhas Effendi, M.Si (Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta), Drs. Kunto Riyadi, MPPM (Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah).
RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2023 merupakan pelaksanaan tahun ketujuh belas dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Tahun 2006 – 2025 dan akan menjadi pelaksanaan tahun ketiga dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2021-2026. Penyusunan RKPD Tahun 2023 dimaksudkan untuk memberikan arah pembangunan tahunan Kabupaten Sleman dan sinergitas program dan kegiatan di daerah, baik yang dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah DIY, dan Pemerintah Kabupaten Sleman bersama-sama dengan masyarakat.
Dalam diskusinya Arif Kurniawan, S.Ag, M.H Wakil Ketua I DPRD mengatakan “Pokok-pokok pikiran DPRD dihimpun berdasarkan hasil reses/penjaringan aspirasi masyarakat, bagaimana Pemkab Sleman bisa merumuskan kegiatan yang sesuai dengan ekspektasi & kebutuhan masyarakat”,
Pemberdayaan masyarakat melalui pariwisata, koperasi, pelatihan-pelatihan untuk UMKM, pembangunan & peningkatan SDM di pasar tradisional, baik pasar yang milik Pemkab, maupun pasar yang dikelola oleh BUMDes. Menghidupkan lembaga ekonomi desa, salah satunya melalui KWT (Kelompok Wanita Tani). Arif Kurniawan, S.Ag, M.H juga menambahkan ”Jangan ada ketimpangan antar wilayah, berdasarkan RTRW 2021-2040, Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) disebar di seluruh wilayah Kabupaten Sleman sesuai dengan potensi masing-masing, Inventasrisasi kebutuhan dan keluhan masyarakat“. Forum ini diakhiri dengan statement Arif Kurniawan, S.Ag, M.H yaitu “basis Kapanewon di Sleman kita kupas tuntas karena setiap kapanewon punya keunggulan masing – masing, tinggal kita mendata lalu kita sesuaikan karena afirmasi anggaran berbeda – beda”. (2022, Harwinda).

